Tidak ada Impian yang tertunda (PART 4)
#PART 4
Hari ini adalah hari pertamaku di pondok pesantren Siti Fatimah. Pengasuh nya yaitu kiyai Sa’id dan bunyai Aisyah. Pondok ini berbeda dengan pondok An-Nasihah dulu sewaktu aku masih duduk dibangku aliyah, disini hanya terdapat 35 santriwan dan santriwati. Dan di pondok ini juga hanya terdapat 4 kamar yakni 3 kamar untuk santri perempuan dan 1 kamar untuk santri laki-laki. Jadi di disini benar-benar sangat terasa kekeluargaannya. Di pondok ini aku melanjutkan mengaji Al-Qur’an bersama bunyai Aisyah dan mengaji kitab-kitab dengan kiyai Sa’id. Setelah selesai berjamaah sholat subuh yang di imami oleh kiyai Sa’id sendiri. Semua santriwati bersalaman dengan bunyai Aisyah, kebetula aku yang paling terakhir yang bersalaman dengan beliau.
“gimana
mba tidurnya nyenyak nggak ?”
“nggih
umi’
“nggih
mba, disini mah tempatnya gini mba sederhana, semoga mba Anisa betah disini
dengan keadaan yang seperti ini”
“nggih
umi”
Aku merasa menemukan apa yang selama ini aku cari yaitu sebuah
ketenangan, kesyahduan dan ketentraman dalam menuntut ilmu, karena selama 2
tahun yang lalu setelah aku lulus dari pondok dan melanjutkan kuliah kedokteran
aku merasa hampa seperti ada sesuatu yang kurang dalam diri ini, dan disinilah
aku menemukan semuanya. Disini aku banyak belajar dari mba-mba disini dimulai
dari belajar kesederhanaan, kebersamaan sampai belajar menggunakan waktu dengan
sebaik mungkin. Awal dipondok aku kenal dengan salah satu mahasiswi di
universitas muhamadiyah yogyakarta yaitu mba Hana. Mba Hana ini adalah ndalem
nya umi dan sering menggantikan umi menerima mba-mba setoran Al-Quran ketika
umi sedang pergi atau ketika umi sedang sakit.
“mba
Hana, Anisa nanti sebelum ngaji ke umi boleh disimakin sama mba dulu boleh
nggak mba ?”
Aku meminta hal tersebut ke mba Hana dikarenakan mba hana memang
termasuk orang yang paling dekat dengan aku dan disisi lain mba Hana ini salah
satu santri yang sudah mengkhatamkan Al-quran di pondok ini.
“nggih
mba, boleh banget mba nanti saya simakin sebelum mba ngaji ke umi”
Disini
memang orang-orangnya benar-benar saling menghormati sesama. Padahal mba Hana
ini selisih 3 tahun lebih tua dari aku, tetapi memanggil aku yang lebih muda
dengan sebutan “mba” karena memang disini orang orangnya sangat saling
menghormati.
Kegiatan di pondok ini mulai dari
sehabis jamaah subuh sekitar jam setengah 5 yaitu mengaji tafsir Al-Quran mulai
dari Tafsir Jalalain, tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Munir dan Tafsir Baidhowi yang
ngajinya langsung dengan kiyai Sa’id, jam 9 pagi yaitu ngaji Al- Quran binnadzor
dengan umi. Dan sehabis maghrib kegiatannnya yaitu setoran Al-quran bilghoib
dengan bunyai Aisyah lalu dilanjut sehabis isya mengaji kitab dengan kiyai Sa’id
dimulai dari kitab Hikam, Aluma’, Irsyadul ‘Ibad, Bulughol Marom dan masih
banyak lagi. Biasanya pengajian dengan kiyai Sa’id ini sampai jam setengah 10
malam. Dan setelah itu kegiatan masing-masing. Ada yang melanjutkan musyawarah
tentang materi yang sudah disampaikan oleh kiyai Sa’id, ada juga yang
mengerjakan PR sekolah, melanjutkan belajar, dan ada juga yang nderes untuk
persiapan besok setoran dengan umi. Setelah selesai kegiatan pondok biasanya
aku melanjutkan nderes karena memang disini aku benar-benar fokus dengan mengaji
Al-quran karena ingin memanfaatkan liburan yang hanya satu bulan ini dengan
melancarkan Al-Quran. Selama liburan dipondok aku memanfaat kan waktu sebaik
mungkin. aku sering meminta tolong ke mba Hana untuk menyimakaan bacaan
Al-Quranku.
Sudah hampir satu bulan aku disini,
aku merasa sangat betah dan aku berfikiran untuk terus melanjutkan mondok
disini. tapi disisi lain aku memikirkan kuliah, karena aku tidak yakin dengan
diri aku sendiri kalau aku mampu bisa membagi waktu kegiatan dipondok dengan
perkuliahan aku yang menurutku sendiri sangat susah. Aku menelpon mamah untuk
menanyakan perihal apakah aku melanjutkan kuliah sambil mondok atau aku harus
fokus dikuliah saja.
“Halo,
Assalamualaikum ma ?”
“iya,
waalaikumsalam dek, gimana mau dijemput kapan ? kan waktu liburan kuliah mu
sudah mau habis”
“gini
ma adek bingung ade mau disini tapi adek takut nanti kuliah adek tertinggal ma”
“yaudah
terserah kamu aja dek gimana intinya mama selalu doain adek semoga pilihan
yanga dek pilih nanti itu yang terbaik”
Setelah
lumayan lama mengobrol dengan mama aku langsung berfikir untuk meminta pendapat
langsung ke umi untuk bagaimana baiknya. Apakah aku lanjut disini atau aku fokus
dengan perkuliahanku saja. Tanpa berfikir panjang aku langsung kerumah umi.
“Assalamualaikum,
punten umi ini mba Anisa”
“waalaikumsalam,
monngo mba masuk, nggih mba pripun ?”
“niki
umi mba Anisa mau meminta pendapat umi untuk kelanjutan mba anisa bagaimana
umi, karena mba Anisa berat meninggalkan pondok, tetapi disisi lain saya takut
nanti tidak bisa membagi waktu dengan baik umi, karena perkuliahan saya sangat
susah umi.”
“kalo
menurut umi, mba Anisa lanjut saja disini jangan takut mba insya Allah kalo
dipondok akan dipermudahkan segalanya.”
“nggih
umi”
Setelah
mengobrol banyak dengan umi, akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan nya
disini. aku menjalani kuliah dengan baik dan juga aku bisa mengikuti kegiatan
pondok dengan baik.
Waktu tak terasa berjalan begitu
cepat aku sudah menyelesaikan kuliah sekaligus menyelesaikan Al-quranku disini.
aku meminta izin untuk kembali kerumah karena aku harus mempersiapkan untuk
wisuda dan mempersiapkan bekal untuk Coass ku nanti. Sesampainya dirumah
tiba-tiba aku disuruh menyiapkan hidangan untuk salah satu tamu mama yang sudah
ada diruang tamu.
“kok
tumben si ma aku yang disuruh nganterin hidangan buat tamunya kan biasanya juga
bi eti yang nganterin, emang siapa si tamunya ? terus kok ini banyak banget
makanan ma”
“sudah-sudah
cepat sana anterin nanti kamu bakalan tau siapa tamunya”

Komentar
Posting Komentar