Tidak ada Impian yang tertunda (PART 2)

 


#PART 2

            6 bulan sudah berlalu setelah Anisa memutuskan sowan ke gus ulil perihal keputusan untuk melanjutkan pendidikannya. Kebetulan hari ini hari terakhir Anisa melaksanakan ujian nasional disekolah. “Nad besok temenin sowan kerumah gus ulil yuk“ ajak aku ke Nadia. “hayukk aja nis, nanti samperin aja kekamar aku yah”.

            Keesokan harinya Anisa dan Nadia sudah berada di rumah gus Ulil. Akhirnya gus Ulil membuka pembicaraan, “gimana kabarnya kalian ? “, lalu secara bersamaan kita menjawab “alhamdulillah gus“. Lalu aku memberanikan diri menanyakan perihal hasil istikhoroh yang kemarin-kemarin sudah sempat tanyakan kepada beliau. “punten gus, gimana hasil istikhorohnya gus? “  aku sambil tersenyum merasa tidak sopan langsung menanyakan hal tersebut. Lalu gus ulil sambil merubah posisi duduknya menjawab pertanyaanku.

“begini Anisa, kamu kan seorang perempuan jadi kamu itu 100% milik ayah kamu, jadi misalkan sekarang ayahmu menyuruhmu pulang dan melanjutkan studimu maka turutilah. Mungkin kamu berfikir masalah sekarang adalah masalah paling rumit yang pernah kamu alami, tetapi nanti kedepannya ada yang lebih rumit dari ini nis, yaitu tentang perjodohan. Untuk saat ini turutilah kemauan ayahmu. Jadi sekarang kamu pulanglah kerumah nis, In syaa Allah itu pasti yang terbaik. “ lalu setelah berbincang cukup lama akhirnya aku memutuskan untuk berpamitan dengan beliau, dan langsung kembali kepondok.

Setelah sampai dipondok aku langsung kekantor pondok untuk menanyakan apakah umi ada di ndalemnya atau tidak, karena aku berniat untuk izin pulang untuk menyelesaikan permasalahan studiku, dan aku berharap jika tidak ada yang menerima aku di universitas manapun dengan jurusan kedokteran maka aku akan kembali melanjutkan belajar Al-Quran disini. lalu aku langsung bergegas ke ndalem umi karena memang umi sedang ada di ndalem. “Assalamualaikum, punten umi ini mba Anisa um“. Sambil duduk bersimpuh aku menunggu jawaban dari umi. Lalu terdengar suara pintu terbuka “waalaikumsalam, nggih mba kenapa mba anisa“. Lalu aku menyampaikan maksud dan tujuanku kepada beliau “punten umi, saya mau izin pulang untuk mengikuti tes kuliah um, nanti misalkan hasilnya tidak baik nanti saya akan kembali lagi kepondok um. “

Lalu sambil menyodorkan minum beliau menjawab “ loh mba, katanya gamau lanjut kuliah, mau disini aja toh sampai khatam. “ sambil tertawa kecil lalu melanjutkan pembicaraannya “yaudah mba nggak papa, semoga diberikan hasil yang terbaik, rencana mau pulang kapan mba ?, dijemput atau bagaimana ?“ lalu akupun menjawab pertanyaan beliau “In Syaa Allah besok umi, punten umi pulang sendiri naik kereta um“.

Akhirnya datanglah hari yang dimana hari itu adalah hari yang tidak ditunggu tunggu oleh Anisa, yaitu hari dimana ia harus meninggalkan pondok yang menurut dia ditempat itu adalah tempat paling terbaik di dunia ini. Setelah sampai di stasiun terdekat dengan pondoknya itu kebetulan keretanya langsung datang sehingga ia tidak perlu menunggu lama lagi. Lalu Anisa langsung masuk kedalam kereta dan mencari tempat duduknya. kebetulan Anisa sangat suka duduk dibagian pojok yang dekat dengan jendela karena bisa memandang pemandangan sepanjang perjalanan.

2 jam berlalu, akhirnya sampailah distasiun didaerah rumahnya, tetapi untuk sampai rumahnya tersebut aku harus menaiki angkutan umum terlebih dahulu sekitar 1 jam. Lalu sesampainya dirumah aku langsung disambut oleh keluargaku. Dan abang langsung menyuruhku siap siap untuk pergi ke surabaya untuk mengikuti tes di salah satu universitas disana. “ dek, kamu makan dulu terus kita siap siap langsung berangkat ke surabaya, untuk barang barang yang perlu kamu bawa sudah mamah siapkan“. Tanpa penolakan sedikitpun aku langsung menuruti perintah abangku tersebut tanpa merespon ucapannya.

Waktu menunjukan pukul 23:00 kita sampai disalah satu hotel yang disurabaya yang kebetulan hotel tersebut dekat dengan universitas tempat besok aku mengikuti tes. Lalu keesokan harinya aku bersiap siap karena ujian dilaksanakan pada jam 7 pagi. Setelah sampai ditempat ujian, dan mengikuti berbagai alur agar dapat masuk keruangan ujian. Dalam hati aku berkata “ ya allah semoga ngga lulus“ karena memang aku tidak mau melanjutkan kuliah karena beberapa faktor. Apalagi sekarang orang tua ku menginginkan aku melanjutkan kuliah di kedokteran yang menurutku aku tidak akan mampu untuk masuk ke fakultas tersebut, karena aku termasuk siswa yang tidak pintar dulu pas sekolah di aliyah, jadi akupun sangat berharap tidak lulus dalam ujian ini. Dan mungkin Allah mendengar segala doa doa ku, aku sudah mengikuti tes di salah satu universitas disurabaya ini sudah sekitar 4x dan hasilnya gagal.

Setelah aku mengikuti tes berkali kali dan hasilnya gagal, akhirnya aku memberanikan diri menyampaikan keinginanku didepan keluargaku “ ya sudah, kan hasil tes kemarin kemarin kan gagal, jadi masih mending aku balik lagi aja kepondok, nggak usah kuliah lagi“ lalu bang adam yang sangat sangat menginginkan aku melanjutkan studi yang sama seperti dia ini menjawab pernyataan aku tersebut “jangan dulu dek, ini masih ada yang buka nih pendaftaran gelombang 3 di universitas A disini dek“  dengan sedikit kesal aku menjawab “emang dikampus A ada fakultas kedokteran yah ? “. Setelah berdebat dengan bang adam akhirnya aku mengalah mengikuti kemauannya. Aku didaftarkan di universitas A  yang kebetulan berada dikota ku sendiri.

Tepat bulan puasa pada tahun 2018 , aku mengikuti ujian selama 2 hari berturut-turut, dan untuk hasilya harus menunggu selama seminggu. Waktu telah berlalu dimana hari ini adalah hari pengumuman lulus atau tidaknya hasil ujianku kemarin. “dek, kamu sudah liat web belum? Kan pengumumannya hari ini. “ dengan tatapan yang mengerikan seorang bang adam. Lalu aku menjawab dengan berat hati “iya bang nanti aku lihat“, lalu bang adam semakin kesal dan akhirya bang adam sendiri yang melihat pengumuman tersebut, sambil scroll scroll hapenya dia mencari nama aku. Dan setelah beberapa menit muka bang adam langsung berubah bahagia “dek, ada nama kamu nih berarti kamu lulus dek, ini nama kamu diurutan 5 dek, alhamdulillah dek“. Bang adam langsung memeluk ku.



Maaf guys kalo ceritanya aneh, karena masih dalam proses belajar hehe

mohon kritik dan sarannya.

terimakasih banyak.


Komentar