Tidak ada Impian yang tertunda

 


#PART 1

Semilir angin begitu sendu seolah olah alam ikut mengamini doa doa yang sedang dipanjatkan oleh perempuan yang begitu khusu melangitkan permintaan kepada-Nya. Setelah selesai melakukan sholat sunnah, Anisa melanjutkan kegiatan yaitu membangunkan anak anak santri, kebetulan ia di beri amanah oleh bunyai nya ditunjuk sebagai pengurus bagian jamaah, sehingga ia harus melakukan kegiatan setiap pagi harus membangunkan anak anak santri dan sesekali menggantikan umi dan abah mengimami ketika sedang tinda (pergi). Adzan subuh berkumandang Anisa bergegas mengambil wudhu dan langsung menjemput umi dirumah beliau.

“assalamualaikum, punten umi bade ngimamin mboten ?” sambil duduk menunggu jawaban dari bunyai nya.

“nggih mba umi ngimamin” suara yang begitu menyejukan itu akhirnya terdengar.

Matahari pun sudah menunjukan keindahannhya, Anisa bergegas untuk berangkat ke sekolah, kebetulan ia sekolah di Madrasah Aliyah. Sesampainya dikelas, Anisa langsung disambut kegaduhan teman temannya yang sedang membicarakan jenjang pendidikan yang akan mereka tempuh, karena sudah memasuki kelas akhir. Salah satu teman kelasnya pun bertanya dengan semangatnya

“Nis ayoo kamu mau daftar kuliah dimana ?” sambil menarik tanganku menuju temat duduk yang kebetulan berada didepan.

 “aku nggak berminat buat kuliah nad” aku menjawab dengan penuh keyakinan. Kebetulan nadia adalah salah satu sahabatku. Aku sudah menceritakan keinginanku untuk tidak melanjutkan kuliah kepada nadia, karena aku ingin melanjutkan belajar al-Quran dipondok ini.

Sepulang sekolah aku dipanggil oleh pengurus karena orangtuaku menelpon lewat kantor pondok. “assalamualikum, ma gimana kabarnya ?” aku langsung menanyakan kabar karena memaang sebelumnya mama tidak pernah menelponku, perasaanku saat ini campur aduk takut mendapatkan kabar buruk dari keluarga dirumah.

“waalaikumsalam, alhamdulillah mama dan keluarga sehat disini, oiya langsung aja yah de, kemaren abang mendaftarkanmu kuliah disurabaya jurusannya kedokteran” mama mengatakan itu dengan penuh semangat.

“aku gamau kuliah ma” aku menjawab dengan nada memohon. Setelah selesai berbincang dengan mama melalui via telepon aku langsung berpikir bagaimana caranya aku menolak secara halus permintaan mama.

Sudah seminggu yang lalu perbincangan aku dan mama mengenai studi yang akan aku tempuh nanti, tetapi aku sangat keberatan dengan keputusan mama tersebut. Dan akhirnya aku memberanikan diri untuk sowan ke gus ulil yang kebetulan beliau juga guru disekolahku. Aku memutuskan untuk kerumahnya gus ulil bersama nadia

“ Assalamualaikum” ucapku bersamaan dengan nadia

“waalaikumsalam, ehhh anisa nadia monggo monggo  masuk mba” sambil membukakan pintu dan mempersilahkan kami masuk.

“monggo duduk mba”

“nggih gus” ucapku

“ada apa nggih, kok tumben kerumah saya ?” gus ulil menanyakan tujuan kita kerumah beliau sambil membuka toples yang berisi makanan dan menyodorkannya kepada kita.

“monggo mba dimakan”

Aku langsung mengutarakan maksud kedatanganku kerumah beliau untuk meminta pendapat beliau mengenai kelanjutan studiku yang dipilihkan oleh keluargaku.

            “punten gus, saya kan sudah kelas akhir dan kebetulan saya berniat untuk tidak melajutkan kuliah karena saya ingin melanjutkan belajar Al-quran disini, sedangkan orang tua saya menyuruh saya untuk kuliah gus, punten gus bagaimana baiknya yah gus ?”

            “oalah ngih ngih, kalau boleh tau orang tua anisa menyuruh kuliah jurusan apa?”

            “punten gus,  saya disuruh kuliah ngambil jurusan kedokteran”

Setelah aku menceritakan semuanya pada beliau, akhirnya beliau memutuskan untuk diistikhorohkan terlebih dahulu.

            “nggih mba, nanti saya akan istikhorohkan biar mendapatkan jawaban yang terbaik dari allah, karena ini mungkin menurut mba nisa ini adalah suatu persoalan yang membingunkan, tapi pasti suatu saat nanti ada yang lebih membingunkan dibandingkan ini yaitu perihal perjodohan” jawab beliau sambil tersenyum.

            “nggih gus, minta doanya gus semoga dilancarkan dari segala urusan” setelah itu kami berpamitan dan gus ulil berpesan nanti setelah UN selesai jawaban untuk persoalan ini akan diberitahukan.

Bersambung..........


maaf guys kalo ceritanya aneh, masih dalam proses belajar 

mohon kritik dan sarannya.

terimakasih banyak



Komentar

Posting Komentar